Selalu ingat Allah Juli 29, 2006
Posted by sumeleh in Resonansi.add a comment
Semua orang pasti mendambakan ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan kesejahteraan dalam hidup. Ia berharap agar ALLAH selalu hadir dan membimbing segala aktivitas hidupnya.
Salah satu cara efektif agar senantiasa merasakan tenang, damai, dan bahagia dalam hidup adalah zikrullah ( Selalu Ingat ALLAH ) dengan do’a dan zikir yang disertai perenungan dan pengamalan intensif.
(lagi…)
Apa Itu MySQL? Juli 28, 2006
Posted by sumeleh in Information Technologi.10 comments
MySQL (bisa dibaca dengan mai-es-ki-el atau bisa juga mai-se-kuel, terserah Anda) adalah suatu perangkat lunak database relasi (bahasa kerennya Relational Database Management System atau RDBMS), seperti halnya ORACLE, Postgresql, MS SQL, dan sebagainya.
Bersegeralah dalam kebajikan Juli 13, 2006
Posted by sumeleh in Artikel.1 comment so far
Rasul mulia shalallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda, “Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti, akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (Hadits Rriwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Sabda nabi tersebut merupakan anjuran kepada umat yang dicintainya agar bersegera dalam menunaikan amal kebajikan. Jangan menunda-nunda perbuatan baik. Anjuran itu sekaligus sebagai tuntunan menyikapi suatu keadaan yang beliau pun mengingatkannya, yaitu akan munculnya berbagai macam fitnah. Apabila keadaan yang penuh fitnah itu terjadi, maka orang-orang yang bersegera dalam berbuat baik dan men-dawamkan-nya, mereka akan mendapat perlindungan Allah SWT.Fitnah itu, disifati, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Sebuah tamsil tentang keadaan yang diliputi keburukan. Dalam gulita, tidak dapat dikenali mana yang asli, mana yang palsu. Sulit dibedakan mana yang baik, mana yang buruk. Di tengah kegelapan orang hanya meraba dan menduga bercampur perasaan galau dan curiga. Konon, hanya mereka yang punya itikad jahat yang bisa hidup senang dalam kegelapan.
Mungkinkah fitnah itu sedang hadir dalam kehidupan kita hari-hari ini? Wallahu’alam. Hanya saja, alangkah baiknya bila kita bersikap waspada, mengingat perkembangan, akhir-akhir ini, tak kunjung mengarah pada kehidupan yang lebih baik. Kekuatan-kekuatan destruktif terus bermunculan memupus aset-aset kebajikan yang selama ini kita miliki.
Para elite seolah lebih suka bersengketa dan alpa memikirkan derita rakyat jelata. Tokoh-tokoh umat saling berlomba meraih kedudukan, kendati untuk mencapainya seringkali harus menodai keyakinan atau melecehkan agamanya sendiri.
Mengarifi kenyataan itu, sungguh bijak jika kita menyambut imbauan Rasulullah saw, tidak menunda untuk berbuat baik. Bahkan terus memperbanyak amal kebajikan sejauh yang dapat kita sanggupi.
Maka marilah kita segera berbuat baik. Sesungguhnya pastilah Allah menyertai orang-orang yang berbuat baik. (QS 29:69).
Pemberian Terbaik Juli 7, 2006
Posted by sumeleh in Tak Berkategori.1 comment so far
Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana. Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. “Inilah hartaku yang paling berharga”, demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.
Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, “Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. “Ini perintah Raja!”. Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan. Petani itu lalu menjawab, “Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? “Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. “Tolonglah, kasihani anak dan istriku…berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku…” Namun, pemimpi pasukan berkata lagi, “Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. “Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya.” Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.
Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, “Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.
Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. “Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini….”. Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. “Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba,terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap. Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, “Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya….”. Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja. Teman, bisa jadi, tak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi. Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain. Namun, petani tersebut adalah satu dari orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.
Sesungguhnya, Allah sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya. Allah, sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya. Bukan, bukan karena Allah butuh semua itu, dan juga bukan karena Allah kekurangan. Namun karena sesungguhnya Allah Maha Kaya, dan Allah sedang menguji setiap hamba-Nya.
Allah sedang menguji, apakah hamba-Nya adalah bagian dari orang-orang yang beriman dan mau bersyukur. Allah sedang menguji, apakah ada dari hamba-hamba-Nya yang mau menafkahkan harta di jalan-Nya. Dan Allah, pasti akan memberikan balasan atas upaya itu dengan pemberian yang tak akan kita bayangkan. Imbalan dan pahala yang akan kita terima, sesungguhya akan mampu membuat kita paham, bahwa Allah memang Maha Pemberi Kemuliaan. Dan teman, mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu. Allah selalu punya banyak cara-cara rahasia untuk memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya. Dan Dia akan selalu memberikan pengganti yang lebih baik untuk semua yang ikhlas kita berikan pada-Nya.
Sumber : dari Milis Daarut Tauhid
Jangan lupa mengingat mati… Juli 4, 2006
Posted by sumeleh in Tak Berkategori.1 comment so far
Seorang ulama pernah berkata, “Selain Allah, sesuatu yang paling sering dilupakan manusia adalah kematian.” Padahal kematian menjadi sebuah fenomena nyata yang selalu disaksikan manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Kematian keluarga, tetangga atau orang-orang yang tidak kita kenal yang dapat diketahui dari berita-berita kematian di berbagai media massa, selalu terjadi setiap saat.
Begitulah kenyataannya, pengalaman manusia ketika ditinggalkan mati oleh sanak kerabatnya jarang sekali bisa membuat ia sadar bahwa ia juga akan seperti yang meninggal itu. Ketika ia turut mengusung keranda, jarang sekali ia merasa bahwa pada suatu saat ialah akan diusung begitu. Pada saat ia ikut meletakkan atau menyaksikan sang mayit diletakkan dalam rongga sempit di dalam tanah, ia tidak berfikir bahwa ia juga nanti pasti akan mengalami hal serupa.
Banyak manusia yang tidak sadar bahwa detak jantung yang belalu, denyut nadi yang bergetar serta detik-detik yang terlewat sesungguhnya merupakan langkah-langkah pasti yang akan semakin mendekatkan kita pada titik takdir kematian.
Karena tidak disadari, maka kematian datangnya tampak selalu mendadak. Banyak terjadi, manusia yang dicabut nyawanya dalam keadaan sedang bergembira ria. Kemana pun kita berlari, dan dimana pun kita berada, mati akan datang merenggut. Ini suatu kepastian. Kita hanya menunggu giliran.
“Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata.” (QS. Jum’ah:8).
Dan ketika kematian itu datang, maka berakhirlah segala kenikmatan yang telah dan tengah dirasakan manusia. Ada orang bijak yang mengatakan, secara global sesungguhnya Allah hanya memberi satu nikmat saja kepada manusia, yakni nafas. Begitu nafas itu berhenti, maka berhenti pula berbagai kenikmatan yang ada.
Itulah sebabnya, mengapa nabi mengatakan bahwa sesuatu yang bisa memutus segala kenikmatan adalah kematian. Meskipun secara hakiki hanya Allah yang mencabut semua itu. Anehnya, sesuatu inilah yang paling sering tidak diingat manusia.
Sebagai NasIhat
Sering kali gmbaran kehidupan duniawi mudah membuat kita terlena. Apalagi ketika begitu semakin banyak perlengkapan hidup dengan segala macam kemajuan, kemudahan dan kenikmatannya yang semakin mengepung kita di masa modern ini.
Semua itu kerap menggoda dan melalaikan manusia. Muncullah berbagai prinsip hidup sesat seperti materialisme (hidup hanya untuk tujuan mencapai kemajuan materi), hedonisme (hidup hanya untuk mencapai kesenangan), permisivisme (serba membolehkan apa saja) dan lain-lain yang sejenisnya.
Dalam keadaan seperti itu, nasehat dari siapapun biasanya tak lagi digubris. Tapi ingatlah setiap kita memiliki penasehat yang sangat ampuh, yaitu kematian. Bila sejenak merenungkan kematian yang sewaktu-waktu pasti akan datang, pasti kita akan lebih hati- hati dalam melangkah.
Cukuplah kematian itu sebagai penasihat. (HR. Thabrani dan Baihaqi).
Sudah semestinya kita senantiasa mengingat akan datangnya musibah terbesar itu. Seketika itu, istri, anak dan keluarga tersayang akan terpisah, pangkat yang diduduki akan hilang, harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan, dan bahkan nyawa yang dicintai akan lepas. Melalui pintu mati kita meninggalkan alam dunia, menuju akhirat.
Dengan demikian, orang yang melalaikan datangnya kematian, berarti kehilangan penasehat terbaiknya. Kehidupannya akan mudah tergoda dan terperosok dalam kelalaian. Keterlenaannya mengejar kehidupan dunia, kenikmatan sesaat dan bermegah-megahan membuatnya lalai mempersiapkan bekal akhirat hingga kematian menjemput. Akibat lalai dengan nasehat kematian, akhirnya hanya berujung kepada penyesalan abadi di neraka jahim.
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At Takastur: 1- 8).
Manusia Cerdas
Kriteria manusia cerdas yang sering diinginkan dan dibayangkan kebanyakan orang adalah yang memiliki IQ tinggi, menguasai iptek, kreatif dan semacamnya. Agar anaknya menjadi seperti itu orang tua tak segan- segan mengeluarkan biaya tinggi sampai menyekolahkannya ke luar negeri.
Barangkali bila hidup itu cuma di dunia saja, gambaran yang demikian itu ada benarnya. Tetapi hidup di dunia ini hanyalah teramat sangat sebentar dibanding dengan kehidupan abadi di akhirat. Karena itu kualitas manusia cerdas yang seperti itu belum lengkap. Apa artinya seorang yang berhasil mengumpulkan berbagai prestasi dunia; harta melimpah ruah, jabatan berderet-deret bila setelah mati justru sengasara selamanya di akhirat?
Rasul memberikan rumusan yang lain, bahwa manusia cerdas ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Dengan mengingat mati, kehidupannya di dunia dikelola, tidak hanya sebagai kesenangan tetapi juga menjadi ladang beramal baik sebanyak-banyaknya.
Dengan mengelola keseimbangan hidup diperolehlah kemuliaan dunia dan keselamatan di akhirat. Dia sangat menyadari perjalanan di akhirat yang jauh dan abadi tentu membutuhkan bekal yang jauh lebih banyak lagi dibandingkan di dunia. Karena itu kecerdikan yang sering dipahami manusia akan bermakna jika diiringi kecerdikan memikirkan nasib di akhirat.
Secerdas-cerdasnya manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang benar-benar cerdas dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat. (HR. Ibnu Majah)
Ringan Beribadah
Orang yang lupa akan kematian akan terasa berat beribadah karena ia dikejar-kejar kenikmatan duniawi. Baginya masalah akhirat dianggapnya sia-sia. Kalaupun ada niat beribadah, ditunda-tunda menunggu nanti kalau sudah tua. Padahal datangnya maut siapa tahu. Bisa jadi sore atau malam nanti maut datang. Bila sudah saatnya, kita tidak akan mampu mengundurkannya.
Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda ibadah. Laksanakanlah kewajiban beribadah dengan segera seolah maut akan menjemput. Dengan bersikap demikian, beribadah akan terasa ringan.
Jikalau engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu-nunggu datangnya waktu sore (untuk mencari bekal kematian) dan jikalau engkau di waktu sore, maka janganlah menunggu-nunggu datangnya waktu pagi (untuk itu pula). Ambillah kemanfaatan sewaktu hidupmu ini untuk bekal kematianmu dan sewaktu masih sehat untuk bekal sakitmu. (HR. Ibnu Hibban).
Menimbulkan Kezuhudan
Hawa nafsu yang cenderung cinta kemewahan mendorong manusia menjadikan dunia sebagai tujuan. Hati seperti ini dipenuhi dengan keinginan dan panjang angan-angan tentang kemewahan. Dzikirnya: uang, uang dan hanya uang.
Pikirannya dipenuhi segala macam ketamakan. Sikap demikian itu membuatnya tidak mau mensyukuri yang sudah ada dan melupakan akhirat. Hati yang sudah dipenuhi cinta dunia, sulit mengingat Allah, dan ujung-ujungnya mengarahkan hidupnya menuju neraka.
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). (QS. An Nazi’aat: 37- 39).
Hawa nafsu yang cinta dunia itu, hendaklah dikendalikan dengan mengingat mati. Dengan mengingat mati, angan-angan panjang tentang kemewahan dunia dapat dikendalikan. Ingatlah pakaian mahal dan indah yang kita banggakan akan ditinggal dan menjadi barang yang tak berguna di alam kubur sebab pakaian kita hanyalah lembaran kain kafan saja.
Kapling tanah yang luas juga akan berpisah, dan kita menghuni tanah dan liang sempit yang gelap sendirian. Dengan menyadari kenyataan masa depan yang akan kita hadapi itu, akan berkuranglah kecintaan kepada dunia sehingga tumbuh kezuhudan.
Bila cinta dunia membuat seseorang menjadi budaknya, sikap zuhud justru menjadikan seseorang berdaya menggunakannya sebagai alat mencari ridha Allah. Harta kekayaannya tidak menimbulkan kesombongan, tetapi justru membuatnya khawatir kalau- kalau ada hak fakir miskin belum tertunai. Segeralah ia tunaikan zakat, infaq dan shadaqah dengan ringan karena menyadari harta yang sesungguhnya bukan yang di dunia ini tetapi yang sudah di amalkan.
Manfaat lain dengan senantiasa mengingat mati adalah akan mendorong kita beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Kesadaran akan datangnya kematian yang tidak terduga membuat kita senantiasa waspada. Hidup kita terkontrol dan tidak lepas kendali. Mengingat mati dapat menghapus dosa.
Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang sedemikian itu akan menghapus dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia. (HR. Ibnu Abiddunya).
Memang mengingat mati membuat hidup kita bermakna dan jauh dari sia- sia, sedangkan melupakannya hanya akan mengakibatkan kita tertipu dalam kehidupan dunia yang fana dan membawa kesengsaraan berkepanjangan di akhirat.· Hanif Hannan
aku cinta Malaysia…..tapi lebih cintakan ALLAH……….. oleh itu, jika berlaku pertembungan antara kepentingan manusia dengan kepentingan Allah……DAHULUKAN KEPENTINGAN ALLAH….
Mengingat Mati… Juli 4, 2006
Posted by sumeleh in Tak Berkategori.add a comment
Astaghfirullah,
Betapa sesungguhnya kita sangat merindukan hari dimana kita berjumpa dengan nya, dan kita tau, kalau jalan satu-satunya berjumpa dengannya adalah MATI… tapi kenapa kita sering takut mati?? mending kalau kita takut karena kita sadar betapa tidak pantasnya kita berada disisi Allah dengan DOSA yang melumuri badan kita…. tapi ternyata ada juga yang takut gara-gara keperluan duniawinya yang berat untuk ditinggalkan.
Astaghfirullah .
di suatu malam saya pernah takut untuk memejamkan mata saat menjelang tidur, saya takut, “bagaimana saya bisa yakin pagi besok saya bangun dan diberi kesempatan untuk menjalani hidup lebih baik…” waktu itu sebelum tidur saya mereview apa yang seharian saya lakukan. amanah apa yang saya tinggalkan… dan kemudian saya tidur dengan memasrhakan diri, dan memohon untuk memperbaiki hari ini. dan Alhamdulillah sampai sekarang Allah masih memberikan saya kesempatan itu.
kemudian terlintas untuk membuat semacam media Afirmasi, supaya saya yang selalu di depan Komputer ini selalu ingat akan MATI, dan selalu mengingat bahwa
“Aku bekerja bukan untuk Hidup… tapi untuk yang MAHA HIDUP”yah saya cuma mau berbagi aja, semoga kita semua selalu diingatkan, dan tidakmenjadi manusia yang sombong dan lupa pada Allah, karena semua mahluk Allah Pasti mati, dan kita tak tahu kapan waktu nya.
bukan kah dengan Allah merahasiakan “DEADline” justru membuat hidup kita lebih hidup?!